Jumat, 01 Juli 2011

Risalah Sayyidina Umar Ibn Khottob. R.A>

امّا بعد,
فانّ القضاء فريضة محكمة وسنّة.
فافهم إذاأُدليَا إليك وانفذإذا تبيّن لك,
فانّه لا ينفع تكلّم بحقّ لا نفذله.
اس النّاس فى مجلسك وفى وجهك وقضاءك حتّى لا يطمع شريف فى حيفك ولا ييأس ضعيف من عدلك البيّنة على المدّعى واليمين على من انكر,
والصّلح جاءزبين المسلمين إلاّ صلحا أحل حراماً أوحرّم حلالا,
ومن ادّعى حقاّغاءباأوبيّنة فاضرب له أمداينتهى اليه فإن بيّنه أعطيته بحقّه وإن أعجزه ذلك استحللت عليه القضيّه, فإنّ ذلك هو أبلغ فى العذر وأجلى للعماء,
ولا يمنعنّك قضاء قضيت فيه اليوم فراجعت فيه رأيك فهدبت فيه لرسدك ان تراجع فيه الحقّ,
فإنّ الحقّ قديم لايبطله شيء ومرجعة الحقّ خير من التّمادى فى الباطل.
والمسلمون عدول بعضهم على بعض إلاّ مجرّبا عليه شهادة زورأومجلودًا فى حدّ أوظنيناً فى ولاء أوقرابة قإنّ الله تعالى تولّى من العباد السّّراء ر وستر عليهم الحدود إلاّ بالبيّنات والأيمان.
ثمّ افهمَ الفهمَ فيمااُدليَ إليك ممّا وردعايك ممّا ليس فى القران ولا سنّة ,
ثمّ قايس الأمورعند ذلك, واعرف الأمثال ثمّ اعمد فيما ترى إلى أحبّها إلى الله وأشبههاباحقّ.
وايّاك والغضب والقلق والضّجروالتأذّي بالنّاس والتنكّرعند الخصومة أوالخصوم فانّ القضاء فى مواطن الحقّ ممّا يوجب الله به الأجرويحسن به الذّكرفمن خلصت نيّته فى الحقّ ولوعلى نفسه كفاه الله مابينه وبين الناس.
ومن تزيّن بما ليس فى نفسه شانه الله فانّ الله تعالى لايقبل من العباد إلاّ ماكان خالص


Amma Ba’du.
Bahwa sesungguhnya peradilan adalah Fardlu/kewajiban yang ditetapkan Allah SWT, dan Sunnah Rasul yang harus diikuti.
Maka jika ada perkara yang diajukan kepadamu fahamilah betul-betul (dengan penuh ketelitian)dan laksanakanlah jika telah jelas kebenarannya,
karena sesungguhnya tidak ada manfaatnya perkataan yang haq/benar yang tidak ada pengaruhnya (tidak dapat dilaksanakan,

persamakanlah (jangan diskriminasi memperlakukan) kedudukan manusia dalam mejelis(peradilan)mu, dalam pandanganmu dan dalam keputusanmu sehingga pejabat/orang kaya tidak dapat mempengaruhimu untuk berbuat curang dan orang yang lemahpun tidak berputus asa dari keadilan (yang kau putuskan).

Yang (harus)menerangkan(duduk perkara)/(beban)pembuktian (atau mengajukan saksi) adalah pendakwa (Jaksa dlm pidana/Pnggugat atau Pemohon dlm Perdata) dan sumpah hendaklah dilakukan oleh orang yang memungkiri (terdakwa).

Perdamaian (dading) dibolehkan hanya antara orang-orang yang bersengketa dari kalangan muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Barang siapa (mendalilkan) mengakui sebagai hak(nya) sesuatu yang ghoib atau sesuatu yang jelas, maka bebankankanlah (berikanlah kesempatan) kepada orang itu (untuk membuktikan), maka apabila ia dapat membuktikan (dalilnya), berikanlah haknya, dan apabila ia tidak sanggup(membuktikan), maka putuskanlah perkarannya. Sebab kesempatan waktu (yang telah diberikan untuk membuktikan) adalah sebaik-baiknya penangguhan dan menjelaskan (membuat terang) kekaburan
dan tidak akan menghalangimu untuk menjatuhkan suatu putusan (lain/kembali kepada kebenaran) pada suatu hari kemudian yang engkau meninjaunya kembali (sedangkan) engkau mendapat petunjuk (hidayah tentang kebenaran atas perkara itu),
karena kebenaran itu adalah qodim yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu, dan kembali kepada kebenaran itu adalah lebih baik daripada terus menerus di dalam kesesatan.

Kaum Muslimin itu adalah orang-orang yang (mampu berbuat) adil terhadap sesama mereka. Kecuali orang yang pernah melakukan/bersumpah palsu atau orang yang pernah dikenakan hukuman jilid (dera) atau orang yang diragukan dalam kesaksiannya karena kekerabatan. Hanyalah Allah SWT yang menguasai rahasia hati hamba-hambaNya yang tersembunyi dan melindungi mereka dari hukumanNya kecuali nyata/jelas dengan bukti-bukti atau sumpah yang sah.

Kemudian fahamilah(dengan sungguh2), fahamilah (dengan sungguh2)perkara yang diajukan kepadamu yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an atau dalam Sunnah/Hadits. Kemudian ketika itu(tidak terdapat dalam Al-Qur’an atau dalam Sunnah/Hadits)maka pergunakanlah qiyas terhadap perkara-perkara itu dan caritahulah tentang perkara (terdahulu)yang semisal dengan perkara itu(yurisprudensi), kemudian pilihlah yang terbaik menurut pandanganmu pada sisi Allah SWT dan yang terbanyak miripnya kepada yang benar.

Janganlah ada dalam dirimu sifat benci, merusak, bosan, menyakiti hati manusia dan berbuat curang ketika (memeriksa/mengadili) persengketaan atau permusuhan, karena sesungguhnya peradilan itu ditempat yang hak dimana Allah SWT telah mewajibkan pahala (untuk orang)yang ikhlas niatnya dalam menegakkan hak/kebenaran walaupun atas dirinya sendiri, Allah SWT akan mencakupkan antara dirinya dan antara manusia dan barang siapa yang berhias diri dengan apa yang tidak ada pada dirinya, maka Allah SWT akan memberikan aib kepadanya. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan meneima hamba-Nya kecuali yang ikhlas.Amma Ba’du. Bahwa sesungguhnya peradilan itu adalah sesuatu kewajiban yang ditetapkan oleh Allah SWT, dan suatu Sunnah Rasul yang wajib diikuti. Maka fahamilah benar-benar jika ada sesuatu perkara yang dikemukakan kepadmu dan laksanakanlah jika jelas kebenarannya, karena sesungguhnya tidaklah berguna pembicaraan tentang kebenaran yang tidak ada pengaruhnya (tidak dapat dijalankan), persamakanlah kedudukan manusia itu dalam mejelismu, pandanganmu dan keputusanmu sehingga orang bangsawan tidak dapat menarik kamu kepada kecurangan dan orang yang lemahpun tidak berputus asa dari keadilan.

Keterangan berupa bukti atau saksi hendaklah dikemukakan oleh orang yang mendakwa dan sumpah hendaklah dilakukan oleh orang yang mungkir (terdakwa).

Perdamaian diizinkan hanya antara orang-orang yang bersengketa dari kalangan muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan barang yang haram atau mengharamkan barang yang halal.

Barangsiapa mengaku sesuatu hak yang ghoib atau sesuatu yang jelas yang mana bukti-bukti yang akan dikemukakannya itu masih belum terkumpul ditangannya, maka berikanlah kepada orang itu waktu yang ditentukan, maka jika ia dapat mengemukakan bukti-bukti tersebut, berikanlah haknya, dan jika ia tidak sanggup, maka selesaikanlah persoalannya. Sebab cara memberikan waktu yang ditentukan itu adalah sebaik-baiknya penangguhan dan lebih menjelaskan keadaan yang samar dan tidaklah akan menghalangimu suatu keputusan yang mengaku ambil pada suatu hari kemudian engkau meninjaunya kembali, lalu engkau mendapat petunjuk (hidayah), tidaklah hal itu menghalangimu kembali kepada kebenaran karena kebenaran itu adalah qodim yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu, dan kembali kepada kebenaran itu adalah lebih baik daripada terus menerus di dalam kesesatan.

Kaum Muslimin itu adalah orang-orang yang adil terhadap sesama mereka. Kecuali orang yang pernah bersumpah palsu atau orang yang pernah dikenakan hukuman jilid (dera) atau orang yang tertuduh dalam kesaksiannya berhubung karena kerabat. Hanyalah Allah SWT yang menguasai rahasia hati hamba-hambaNya dan melindungi mereka dari hukumanNya kecuali ternyata dengan bukti-bukti yang sah atau sumpah.

Kemudian fahamilah, fahamilah benar-benar persoalan yang dipaparkan kepadamu tentang suatu perkara yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an atau didalam Sunnah Rasul. Kemudian pada waktu itu pergunakanlah kiyas terhadap perkara-perkara itu dan carilah pula contoh-contohnya, kemudian berpeganglah menurut pandanganmu kepada hal yang terbaik pada sisi Allah SWT dan yang terbanyak miripnya kepada yang benar.

Jauhilah sifat membenci, mengacau, membosankan, menyakiti hati manusia dan jauhilah berbuat curang pada waktu ada terjadi persengketaan atau permusuhan, karena sesungguhnya peradilan itu berada ditempat yang hak dimana Allah SWT telah mewajibkan pahala yang ikhlas niatnya untuk menegakkan yang hak/kebenaran walaupun atas dirinya sendiri, Allah SWT akan mencukupkan antara dirinya dan antara manusia dan barang siapa menghiasi diri dengan apa yang tidak ada pada dirinya sebagaimana Alloh kehendaki, maka Allah SWT akan memberikan aib kepadanya. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan meneima hamba-Nya kecuali hamba yang ikhlas.

0 komentar: